Blog’e Karyawan X-BES tahun 1989-1996

Just another WordPress.com weblog

PERJALANAN BURSA EFEK SURABAYA

85 

Latar Belakang Kebangkitan Pasar Modal

Kelahiran Bursa Efek Surabaya (BES) pada tanggal 16 Juni 1989 tidak terlepas dari dimulainya era globalisasi. Pada dekade ’80 an perang dingin antara blok Barat dan blok Timur telah usai. Ancaman perang nuklir antara blok Barat dan blok Timur sirna dengan sendirinya bersamaan dengan ambruknya perekonomian dalam negeri Uni Soviet.  Kekurangan sandang pangan yang melanda Uni Soviet telah mendorong negara Amerika Serikat memberi bantuan yang berarti dengan alasan rasa kemanusiaan, padahal Uni Soviet merupakan musuh bebuyutan. Masyarakat Uni Soviet sebagian besar menentang diteruskannya sistem ekonomi komunis yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1917 setelah revolusi Bolsevic, yang ternyata telah gagal dilaksanakan selama 70 tahun. Negara Uni Soviet telah pecah menjadi beberapa negara antara lain: Rusia,  Slovakia, Lithuania, Georgia, Latvia, Slovenia dan Chesnia. Sistem ekonomi mereka berubah 180o dari ekonomi komunis menjadi ekonomi pasar. Mereka ramai-ramai mendirikan Bursa Efek. Di Rusia saja ada 7 Bursa Efek yang dibangun antara tahun 1990 sampai dengan 1992. Negara Cina yang semula termasuk dedengkot ekonomi komunis juga berubah mengikuti sistem ekonomi pasar. Selama tahun 1988 sampai 1992 telah di bangun Bursa Efek sebanyak 4 buah dengan kantor Pusat di Kota Beijing, Shanghai, Shenzsen dan Wuhan. Pada saat yang sama Cina mendirikan 7 buah Bursa Komoditi. Sistem perdagangan terintegrasi dalam satu jaringan perdagangan secara nasional meliputi semua Kota Besar: Kota propensi, Kotamadya, Kabupaten dan daerah otonom. Kemakmuran semua daerah lebih merata dan jumlah emiten mencapai sekitar 1300 perusahaan hanya dalam tempo 19 tahun. Cina merupakan negara yang unik, karena sistem politiknya komunis, tetapi sistem ekonominya kapitalis, suatu perpaduan hebat yang membawa pertumbuhan ekonominya 12% per tahun selama 12 tahun terakhir. Otoritas pemerintah bertindak “Thinking before acting” dalam membangun sistem perekonomian. Pada masa datang Cina diramalkan menjadi negara dengan kondisi ekonomi terkuat di dunia, sedangkan Amerika Serikat nomor dua.

Negara-negara yang dahulu menganut sistem ekonomi komunis atau biasa disebut blok Warsawa, berlomba-lomba mendirikan Bursa Efek yang konon sebagai simbul negara kapitalis. Saat ini sistem perekonomian yang dilaksanakan oleh sebagian besar negara – negara di dunia (sekitar 120 negara dari 150 negara) adalah sistem ekonomi pasar. Oleh karena itu sistem perekonomian di dunia sekarang ini memasuki yang disebut era globalisasi ekonomi yaitu satu sistem ekonomi pasar yang berlaku bagi semua negara yang ikut serta menandatangani WTO.

 

Deregulasi Perbankan dan Pasar Modal

Pasar Modal Indonesia mulai diaktifkan kembali sejak tanggal 10 Agustus 1977, tetapi baru bangkit menjelang akhir 1989. Perkembangannya sangat lamban tercermin dari jumlah emiten yang tercatat di Bursa Efek Jakarta hanya 24 perusahaan selama 11 tahun dari tahun 1977 sampai tahun 1988. Pemerintah menyadari mau atau tidak mau, suka atau tidak suka harus menghadapi kenyataan ini dan menerawang persaingan ketat akan terjadi di zaman globalisasi. Pemerintah segera banting setir, dari peraturan yang ketat terhadap investasi di pasar modal menjadi kelonggaran investasi di pasar modal dan perbankan. Pada tahun 1987 dan 1988 diterbitkan kebijakan – kebijakan yang dikenal dengan “Pakto atau kebijakan paket Oktober”, “Pakno atau kebijakan paket Nopember”, dan “Pakdes atau kebijakan paket Desember”. Beberapa Keputusan Presiden (Keppres) dan Keputusan Menteri Keuangan (Kep.Men.Keu) tentang pasar modal diterbitkan untuk mendorong bangkitnya kegiatan di pasar modal, mendahului Undang-Undang Pasar Modal yang lahir tahun 1995.

Para Ketua Bapepam terdahulu selalu berhati-hati dalam menerbitkan peraturan pelaksanaan kegiatan Bursa Efek. Sejak deregulasi perbankan dan pasar modal tersebut Ketua Bapepam, Drs. Marzuki Usman MA berani mengambil keputusan yang memberi kelonggaran kepada emiten untuk menetapkan sendiri harga perdana saham, menghilangkan pembatasan fluktuasi harga harian sebesar 4% dan membuka kran investor asing. Marzuki Usman dikenal sebagai pendobrak kebekuan pasar modal Indonesia dan juga pendorong lahirnya Bursa Efek di daerah.

 

Kelahiran Bursa Efek Surabaya

Sebetulnya perdagangan efek di Kota Surabaya sudah dikenal sejak jaman penjajahan Belanda, yaitu tahun 1925. Kegiatan bursa ditutup bersamaan meletusnya perang dunia kedua di Eropah pada tahun 1940. Surabaya sebagai Kota Besar nomor dua setelah Jakarta mendapatkan kesempatan pertama memiliki Bursa Efek. Persiapan-persiapan dilakukan mulai dari merekrut karyawan, mendidik ketrampilan broker efek, membangun ruang perdagangan dengan memasang banyak “white board” sebanyak jumlah emiten. Persiapan dipimpin oleh Drs. Basjiruddin Ahmad Sarida, pejabat dari Bappepam (Badan Pembina dan Pelaksana Pasar Modal). Pemimpin proyek BES bekerja sama dengan Kadinda Jawa Timur untuk mencari pengusaha yang mau menjadi perusahaan efek, dengan Ikatan Akuntan Indonesia cabang Jawa Timur untuk pendidikan perantara pedagang efek dan Ikatan Notaris Indonesia.

Persyaratan untuk mendirikan Bursa Efek antara lain harus didirikan oleh minimal 25 perusahaan efek. Generasi tahun 80’ an tidak banyak mengenal tentang perdagangan efek, sehingga mendapat kesulitan untuk mengumpulkan 25 perusahaan yang sanggup menjadi perusahaan efek. Oleh karena itu sebagian harus didatangkan dari perusahaan efek yang sudah ada dan berdomisili di Jakarta untuk menjadi pemegang saham BES.

Setelah semua persiapan dianggap cukup maka tepat pada tanggal 16 Juni 1989 Bursa Efek diresmikan oleh Prof.Dr.J.B.Sumarlin, Menteri Keuangan dan dihadiri oleh Ketua Bappepam, Drs. Marzuki Usman MA., Gubernur Jawa Timur, Soelarso dan para pengusaha di Jawa Timur sebagai calon emiten.

Untuk pertama kalinya BES dipimpin oleh seorang Direktur Utama, Drs.Basjiruddin Ahmad Sarida dan dibantu oleh beberapa Kepala Devisi: perdagangan, pencatatan, keanggotaan, keuangan, dan personalia. Tidak lama kemudian, Tubagus Hasjim S.E, MA, diangkat sebagai direktur perdagangan. Berhubung BEJ akan dialihkan operasionalnya dari Bappepam kepada pihak swasta maka persiapan dilakukan dengan menarik Tubagus Hasjim S.E, MA ke jajaran direksi BEJ. Selajutnya dibentuk dewan direksi baru BES terdiri dari Drs.Basjiruddin A.Sarida sebagai Presiden Direktur, Helmi Azhwari dan Hardjo Soemitro SH sebagai direktur. Posisi dewan direksi di atas berlangsung sampai dengan BES melakukan merjer dengan Bursa Paralel Indonesia (BPI) pada tahun 1996.

 

 

 

MISI BES

BES dilahirkan dengan maksud mempercepat pembangunan perekonomian Indonesia bagian timur. Perusahaan-perusahaan yang berada di Indonesia bagian timur diharapkan dapat meningkatkan permodalannya lewat penerbitan saham baru melalui BES. Akan tetapi misi tersebut tidak jelas darimana datangnya. Kalau misi itu datang dari otoritas pasar modal, pasti ada tindak lanjut untuk mewujudkannya. Tampaknya tidak demikian, misi BES berasal dari pengurus BES sendiri. Direksi dan Komisaris BES harus berusaha sendiri untuk mewujudkannya. Tidak mudah mengajak perusahaan untuk mencatatkan sahamnya hanya di BES. Calon emiten lebih memilih mencatatkan di BEJ karena perdagangannya yang sudah likuid dan tidak ada pihak yang melarangnya. Demikian pula para investor memilih bertransaksi di BEJ karena pasarnya likuid, sedangkan di BES sangat tidak likuid. Seringkali di BES ada tawaran beli tetapi tidak ada tawaran jual dan sebaliknya. Transaksi saham terjadi di BES hanya untuk nilai transaksi yang sangat besar karena anggota Bursa ingin menghemat biaya transaksi, dan itu hanya terjadi sekali-kali saja. Walaupun transaksi saham sangat jarang atau hanya 5% dari nilai transaksi BEJ, tetapi BES masih dapat bertahan hidup dari penerimaan biaya pencatatan saham emiten karena adanya kebijakan automatic listing sejak awal yang ditetapkan oleh Bapepam.

Namun hal itu tidak baik untuk jangka panjang dan disadari betul oleh manajemen. Oleh karena itu manajemen banyak melakukan upaya antara lain: regionalisasi, deferensiasi dan merjer. 

 

Investor Kasmaran Pasar Modal

Mau tidak mau, harus diakui pada masa Marzuki Usman menjabat sebagai Ketua Bappepam, pasar modal melejit pamornya. Para investor dan pengusaha tertarik pada pasar modal. Sosok Marzuki Usman dapat mendorong perusahaan-perusahaan untuk go public lewat ceramah langsung dalam kunjungan ke daerah-daerah berkali-kali dengan joke-joke segar. Keakraban Marzuki Usman dengan para pengusaha membawa angin segar bagi perusahaan untuk berramai-ramai go public. Dalam waktu yang singkat Marzuki Usman berhasil membawa 32 perusahaan untuk tahun 1989 dan 66 perusahaan untuk tahun 1990. Marzuki Usman juga mempunyai cita-cita bahwa di masa datang di Kota-Kota lainya akan tersebar Bursa Efek. Marzuki Usman juga yang bercita-cita suatu saat perdagangan saham dapat dilaksanakan dari kota terpencil sepanjang memiliki Laptop.

Pada tahun 1989 dan 1990 kegiatan BES sangat semarak, perdagangan di lantai BES sangat hiruk pikuk. Pada saat itu Anggota Bursa BES hanya melakukan transaksi di lantai perdagangan BES saja dan belum ada Anggota Bursa BES yang asli berasal dari Surabaya merangkap menjadi Anggota Bursa BEJ. Setiap penawaran umum saham baru selalu diserbu oleh para investor, bahkan mereka rela antri sehari sebelumnya di depan kantor agen penjual. Banyak investor yang meminjam Kartu Tanda Penduduk (KTP) teman atau saudaranya sebagai tanda bukti pemesanan saham oleh investor individu. Hal ini dilakukan oleh investor karena pada saat pertama kali diperdagangkan di BES pasti harga akan naik. Marzuki Usman berhasil membuat masyarakat “kasmaran” terhadap saham. Melihat sambutan masyarakat luas begitu hebat terhadap pasar modal, maka Marzuki Usman dan BES optimis pasar modal akan dapat berkembang di daerah.

 

 

Dual Members dan Dual Listed

Anggota Bursa BES mendapat kesempatan untuk menjadi anggota bursa BEJ, merupakan awal dari masa-masa kesepian BES. Banyak anggota bursa BES yang berasal dari Surabaya ikut menjadi anggota bursa BEJ dengan alasan untuk memberi pelayanan lebih baik kepada nasabahnya. Dengan tindakan tersebut tidak banyak perbedaan antara BES dan BEJ. Dilihat dari sudut pemegang saham BES dan emiten yang tercatat di BES relatif sama dengan di BEJ. BES dan BEJ berbeda dilihat dari sudut ekonomi. BES berolaksi di Surabaya atau Jawa Timur yang jumlah uang beredar hanya 7%, sementara BEJ berlokasi di Jakarta dengan jumlah uang beredar 70% dari peredaran nasional. Bagaimanapun juga BES dan BEJ adalah 2 entitas perusahan yang berdiri sendiri dan bersifat bersaing.

 

Pertolongan Dari Bapepam

Sejak BEJ diswastakan pada tahun 1992, dan Bappepam berubah nama menjadi Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) maka BES akan menghadapi pesaing yang sebenarnya. Untuk menjaga agar BES dapat bertahan maka Bapepam memberi kemudahan bagi BES melaksanakan perdagangan obligasi korporasi yang BEJ tidak dapat melaksanakan. BES bernafas dari listing fee dan transaction fee obligasi.

 

Komputerisasi Perdagangan Terintegrasi

Untuk meningkatkan efisiensi perdagangan efek dan penyelesaiannya, BES, BEJ dan KDEI (Kliring Deposit Efek Indonesia) sepakat melaksanakan komputerisasi perdagangan dan penyelesaian transaksi efek secara terintegrasi. Para wakil dari masing-masing BES,BEJ dan KDEI berangkat ke Sydney, Australia untuk menilai peragaan oleh para provider sistem perdagangan terintegrasi dimaksud. Keputusan segera diambil atas kesepakatan bersama antara BES, BEJ dan KDEI, sehingga komputerisasi perdagangan segera dilaksanakan. Jadi sistem perdagangan efek dengan komputer antara BES dan BEJ persis sama. Sesuatu kelalaian telah terjadi, yaitu anggota bursa BES hanya bertransaksi di BES dan anggota bursa BEJ hanya bertransaksi di BEJ, sehingga sifat persaingan kedua bursa efek tersebut tetap ada. Seandainya pada saat pelaksanaan komputerisasi perdagangan tersebut menggunakan konsep intermarket trading, niscaya perkembangan pasar modal Indonesia jauh akan lebih cepat.

Sementara itu upaya meningkatkan teknologi perdagangan dilakukan sangat gencar untuk menghadapi pesaing BEJ. BES berhasil melaksanakan remote trading terlebih dahulu daripada BEJ. Semua anggota bursa BES yang berdomisili di Surabaya dan di luar Surabaya dipasang terminal komputer perdagangan di kantornya masing-masing dengan harapan agar memudahkan bertransaksi. Namun sayang, hasilnya tidak memuaskan. Keunggulan teknologi yang dimiliki BES tidak dibarengi dengan peningkatan nilai transaksi, karena ada variabel lain di luar teknologi dan lebih berpengaruh. Anggota bursa BES beralasan bahwa semua produk yang tercatat di BES sudah ada di BEJ dan BEJ lebih likuid lagi, sehingga tidak ada alasan untuk bertransaksi di BES. Investor lebih mementingkan transaksi lebih cepat terjadi daripada memajukan BES. Kegagalan ini merupakan kerugian besar karena biaya pemasangan instalasi komputer sangat besar.

 

 

 

 

Upaya Regionalisasi

Pada awal operasionalisasi BES dan sebelum BES melaksanakan remote trading pihak manajemen BES berupaya melobi manajemen BEJ dan bertukar pandangan dengan beberapa emiten mengenai regionalisasi emiten. Manajemen BES ingin mengetahui pandangan mereka jika emiten berasal dari Indonesia bagian timur merupakan wilayah BES dan emiten dari Indonesia bagian barat merupakan wilayah BEJ. Hasil jajak pendapat tidak setuju dengan idea semacam itu.

 

Upaya Deferensiasi

Manajemen BES bertukar pandangan dengan manajemen BEJ dan beberapa broker efek mengenai kemungkinan pembagian emiten menjadi emiten berskala besar dan emiten berskala kecil. Emiten besar akan tercatat di BEJ dan emiten kecil tercatat di BES. Kesimpulannya bahwa BEJ tidak hanya butuh emiten besar tetapi juga emiten kecil dengan alasan jumlah total emiten masih sangat sedikit. Jika BEJ hanya untuk emiten besar dan BES untuk emiten kecil, maka broker efek asing akan hengkang dari Indonesia karena dianggap tidak efisien lagi beroperasi di pasar modal Indonesia. Menurut mereka jumlah seluruh emiten yang ada saja masih dianggap terlalu kecil apalagi akan dibagi-bagi.

 

Upaya Spesifikasi Produk

Kegagalan dalam upaya regionalisasi dan deferensiasi produk mendorong manajemen BES melakukan upaya lain yaitu spesifikasi produk. BES harus memiliki produk yang tidak dijual oleh BEJ, maka dibentuk produk baru yaitu LQ45 futures dan perdagangan obligasi. Produk LQ45 Futures sangat lamban perkembangannya karena produk ini berisiko lebih tinggi daripada saham. Produk LQ45 Futures hanya diminati oleh investor yang memahami betul dan berani mengambil risiko. Perdagangan obligasi sangat baik perkembangannya, tetapi sayang BES hanya diberi wewenang memperdagangkan obligasi korporasi. Dari sudut teknologi BES unggul dalam sistem perdagangan obligasi maupun indeks LQ45 Futures.

 

Upaya Merjer

Sudah banyak waktu, tenaga dan biaya dihabiskan untuk mempertahankan hidup BES tetapi hasilnya tidak optimal, dikarenakan kondisi makro ekonomi Surabaya jauh di bawah Jakarta (jumlah uang beredar). Issue merjer BES dan BEJ sudah lama muncul sekitar tahun 1999. RUPS BES dan RUPS BEJ setuju merjer pada tahun 1999, tetapi gagal dalam proses tersebut yang pada waktu itu Bapepam menyerahkan kepada BES dan BEJ sendiri untuk menyelesaikannya. BEJ sebagai entitas suatu perusahaan akan lebih mementingkan perusahaannya sendiri daripada kepentingan nasional, merupakan hal yang lumrah. Sebenarnya upaya merjer merupakan tugas pembinaan dari otoritas pasar modal.

%d blogger menyukai ini: